MANAGEMENT SEKOLAH

 

A'udzubilillahiminasyaithaanirrajim

Bismillahirahmanirahim

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh teman-teman yang di rahmati Allah. Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu dalam lindungan Allah ya..

 

MANAGEMENT SEKOLAH

 

Dalam meningkatkan kualitas kehidupan maka salah satunya ditentukan oleh faktor pendidikan seseorang. Pendidikan bagi seseorang memiliki arti strategis untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan. Pendidikan dapat diperoleh melalui pendidikan formal atau nonformal. Permasalahan utama dalam pendidikan adalah bagaimana menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas. Faktor yang diduga dapat mempengaruhi penyelenggaraan pendidikan adalah keter[1]sediaan sarana dan prasarana pembelajaran, aktivitas dan kreativitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Kegiatan belajar mengajar akan berkualitas apabila didukung oleh guru yang profesional memiliki kompetensi profesional, pedagogik, kepribadian, dan social.

Secara garis besar, terdapat dua variabel yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa, yakni ketersediaan dan dukungan input serta kualitas pembelajaran. Input terdiri dari siswa, guru, dan sarana serta prasarana pembelajaran. Kualitas pembelajaran adalah ukuran yang menunjukkan seberapa tinggi kualitas interaksi guru dengan siswa dalam proses pembelajaran dalam rangka pencapaian tujuan tertentu. Kegiatan belajar mengajar tersebut dilaksanakan dalam suasana tertentu dengan dukungan sarana dan prasarana pembelajaran tertentu pula. Karena itu, keberhasilan proses pembe[1]lajaran sangat tergantung pada guru, siswa, sarana pembelajaran, lingkungan kelas, dan budaya kelas. Semua indikator tersebut harus saling mendukung dalam sebuah sistem kegiatan pembelajaran yang berkualitas.

Untuk mengetahui tingkat kualitas pem[1]belajaran dalam kegiatan belajar mengajar, perlu diketahui dan dirumuskan indikator-indikator kualitas pembelajaran. Morrison, Mokashi & Cotter (2011) dalam risetnya telah merumuskan 44 indikator kualitas pembelajaran yang direduksi ke dalam 10 indikator. Kesepuluh indikator kualitas pembelajaran tersebut meliputi: 1) lingkungan fisik mampu menumbuhkan semangat siswa untuk belajar; 2) iklim kelas kondusif untuk belajar; 3) guru menyampaikan pelajaran dengan jelas dan semua siswa mempunyai keinginan untuk berhasil; 4) guru menyampaikan pelajaran secara sistematis dan ter fokus; 5) guru menyajikan materi dengan bijaksana; 6) pembelajaran bersifat riil (autentik dengan permasalahan yang dihadapi masyarakat dan siswa); 7) ada penilaian diagnostik yang dilakukan secara periodik; 8) membaca dan menulis sebagai kegiatan yang esensial dalam pembelajaran; 9) menggunakan pertimbangan yang rasional dalam memecahkan masalah; dan 10) menggunakan teknologi pembelajaran, baik untuk mengajar maupun kegiatan belajar siswa.

Dalam mencapai tujuan penyelenggaraan sekolah yang efektif diperlukan pengelolaan sekolah sesuai kondisi dan situasi tempat sekolah tersebut diselenggarakan. Untuk pengelolaan sekolah, seorang kepala sekolah atau pemimpin harus memberi perhatian terhadap aspek informal, aspek simbolik, dan aspek yang tidak tampak dari kehidupan sekolah yang telah membentuk keyakinan dan tindakan tiap warga sekolah. Kepala sekolah mempunyai tugas dalam menciptakan atau membentuk dan mendukung kultur untuk menguatkan sikap efektif dalam segala hal yang dikerjakan di sekolah. Dengan menggunakan 10 indikator organisasi yang sehat, Macneil, Prater, & Busch melakukan penelitian terhadap tiga jenis sekolah yaitu, sekolah unggulan, sekolah contoh, dan sekolah kebanyakan. Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa sekolah contoh lebih baik daripada sekolah kebanyakan, tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara sekolah contoh dan unggulan , tetapi perbedaan signifikan terlihat pada sekolah unggulan yang lebih baik daripada sekolah kebanyakan dalam dimensi fokus dan adaptasi sekolah. Dengan demikian, suasana atau iklim budaya sekolah yang sehat akan mempengaruhi prestasi belajar siswa di sekolah. Kepala sekolah bertanggung jawab untuk membangun budaya dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah. Bukan hanya dengan cara mengubah struktur dan fungsi sekolah beroperasi karena harus terlebih dahulu memahami budaya sekolah bukan hanya mengelolanya saja. Hal ini penting untuk menyadari budaya yang kompleks karena memiliki cara yang sangat unik dan istimewa dari bekerja.

Melihat peran kultur sekolah yang begitu signifikan dalam mempengaruhi proses pem belajaran yang dilakukan di sekolah, dibutuhkan adanya kerja sama antarsemua warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, dan semua staf. Hal ini menunjukkan bahwa upaya pembentukan kultur sekolah merupakan tanggung jawab semua warga sekolah, yang dilakukan dengan kesungguhan dan loyalitas tinggi. Kultur sekolah yang baik harus mencerminkan nilai-nilai yang bersahabat dan mendatangkan kesan yang positif bagi siswa, baik di luar kelas maupun di dalam kelas. Kultur diyakini mempengaruhi prilaku seluruh komponen sekolah, yaitu: guru, kepala sekolah, staf administrasi, siswa dan juga orang tua siswa. Kultur yang kondusif bagi peningkatan mutu akan mendorong perilaku warga ke arah peningkatan mutu sekolah. Sebaliknya, kultur yang tidak kondusif akan menghambat upaya menuju peningkatan mutu sekolah. Kultur yang kondusif akan mendorong siapapun warga sekolah malu kalau tidak disiplin, siswa malu kalau tidak mengerjakan pekerjaan rumah, mendorong kepala sekolah untuk berbuat adil dan tegas

Selama ini sering terjadi di sekolah, ada siswa yang kehilangan motivasi dan minat belajar ketika masuk kelas. Dalam kegiatan pembe[1]lajaran , kemampuan peserta didik untuk memahami peran setiap tingkat representasi dan mentransfer dari suatu tingkat menjadi tingkat lain merupakan aspek penting untuk meng[1]hasilkan penjelasan yang dapat dimengerti oleh siswa

Salah satu cita-cita nasional yang harus diperjuangkan oleh bangsa Indonesia adalah menghasilkan sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas. Untuk mencapai tu juan pendidikan yang berkualitas diperlukan manajemen pendidikan yang dapat memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Manajemen mutu terpadu di pendidikan (Total Quality Management in Education) merupakan paradigma baru dalam menjalankan bisnis bidang pendidikan yang berupaya untuk memaksimalkan daya saing sekolah melalui perbaikan secara berkesi-nambungan atas kualitas produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan sekolah. Total Quality Management atau lebih dikenal di Indonesia manajemen mutu terpadu adalah manajemen yang diterapkan dalam dunia manajemen perusahaan (bisnis) yang banyak dikembangkan para pakar insinyur, tetapi dalam perkembangannya banyak lembaga pendidikan mengembangkan sendiri konsep manajemen mutu terpadu.

Strategi yang dikembangkan dalam penggunaan manajemen mutu terpadu dalam dunia pendidikan adalah institusi pendidikan memposisikan dirinya sebagai institusi jasa atau dengan kata lain menjadi industri jasa. Institusi yang memberikan pelayanan (service) sesuai dengan keinginan para pelanggan (customer). Oleh karenanya, dalam memposisikan institusi pendidikan sebagai industri jasa harus memenuhi standar mutu. Pengertian ini tidak menekankan suatu komponen dalam sistem pendidikan, tetapi menyangkut seluruh komponen penyelenggaraan pendidikan yaitu input, proses, dan output. Total quality management merupakan proses peningkatan mutu secara utuh, dan bila prosesnya dilakukan secara mandiri maka manajemen mutu terpadu terdiri dari tiga tahap peningkatan mutu secara kontinu (three steps to continuous improvement), yaitu: 1) perhatian penuh kepada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal; 2) pembinaan proses; dan 3) keterlibatan secara total. Manajemen mutu terpadu merupakan salah satu ikhtiar agar dapat meningkatkan mutu sekolah dengan melalui perbaikan terus-menerus berkesinambungan atas kualitas produk, jasa manusia, proses dan lingkungan organisasi. Dengan demikian, pengelolaan sekolah yang e fektif harus melibatkan semua komponen di sekolah untuk bersama-sama mencapai visi sekolah dalam menuju sekolah yang berprestasi dan dapat memberikan kepuasan pelanggan.

Kultur sekolah adalah kualitas kehidupan yang mewujud dalam aturan-aturan atau norma, tata kerja, kebiasaan kerja, gaya kepemimpinan seorang pemimpin maupun anggota yang ada di sekolah. Kualitas kultur di sekolah akan tumbuh dan berkembang berdasarkan nilai-nilai, spirit, dan aturan yang telah disepakati di sekolah. Kultur sekolah dapat dipahami dari dua sisi yaitu: 1) sisi batiniah, dari sisi kultur sekolah adalah nilai, prinsip, semangat, dan keyakinan yang dianut oleh sekolah; dan 2) kultur lahiriah adalah aturan, prosedur, yang mengatur hubungan anggota sekolah baik formal dan informal.

Konsep kultur sekolah yang baik harus seimbang antara kultur yang bersifat batiniah dan lahiriah, sehingga sekolah menyenangkan. Sekolah akan berkualitas apabila kultur sekolah ditumbuhkembangkan pada seluruh pihak sekolah yaitu dari kepala sekolah, para guru, para tenaga kependidikan, dan siswa. Kultur sekolah baik yang batiniah maupun lahiriah harus dijadikan budaya bagi semua warga sekolah. Membahas masalah pendidikan di sekolah, tentu tidak cukup hanya memperhatikan materi pelajaran, ketersediaan buku, sarana dan prasarana. Sekolah perlu memperhatikan bagaimana kultur yang baik harus dibangun bersama-sama warga sekolah. Oleh karena itu, pendidik harus mengembangkan program[1]program kurikuler dan pedagogis untuk membekali anak-anak dengan keterampilan lintas budaya. Pendidikan yang dikembangkan selayaknya mengakomodasi nilai-nilai lokal masyarakat.

Dalam mewujudkan sekolah yang bermutu karena pihak sekolah harus dapat membuat perencanaan dan kesepakatan antara pihak sekolah dan para pemangku kepentingan. Mencermati pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa, setiap sekolah tentu harus memiliki spirit, nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, slogan[1]slogan atau moto, kebiasaan-kebiasaan dan upacara-upacara yang baik. Sekolah harus mengembangkan spirit, nilai-nilai persaudaraan, kejujuran, kesederhanaan dan cara demokrasi yang baik. Kultur sekolah yang baik akan mempengaruhi pembuatan struktur sekolah, aturan-aturan sekolah, tata tertib sekolah, hubungan vertikal dan horizontal antarwarga sekolah. Kultur sekolah yang baik juga akan mempengaruhi acara-acara ritual dan seremonial sekolah, misalkan dalam melakukan upacara sekolah yang dilaksanakan setiap hari Senin ataupun pada hari-hari besar tertentu. Kultur sekolah dari sifat kesederhanaan dapat dilihat dari cara berpakaian dan peralatan sekolah yang dipakai untuk belajar di dalam kelas. Kultur sekolah yang didasari nilai kejujuran dan kesederhanaan akan berdampak secara langsung ataupun tidak secara langsung pada siswanya.

Meningkatkan kultur sekolah yang baik perlu kerja sama pihak sekolah dengan orang yang peduli terhadap pendidikan dan butuh waktu yang cukup lama. Pendapat tersebut, dapat diketahui bahwa kultur sekolah merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan dan dikembangkan. Kultur sekolah dibagi menjadi tiga, yaitu artifak di permukaan, nilai-nilai dan keyakinan di tengah, dan asumsi dasar. Artifak adalah lapisan kultur sekolah yang paling mudah diamati seperti aneka ritual sehari-hari di sekolah, berbagai upacara, benda-benda simbolik di sekolah, dan aneka ragam kebiasaan yang berlangsung di sekolah. Keberadaan kultur ini dengan cepat dapat dirasakan ketika orang mengadakan kontak dengan suatu sekolah. Aspek kultur ini kemudian dimanifestasikan dalam aspek kultur yang nyata dan diamati, yakni artifak fisik maupun prilaku. Dengan demikian keadaan fisik dan prilaku warga sekolah didasari oleh asumsi, nilai-nilai dan keyakinan.

Kepala sekolah sebagai sentral pengem[1]bangan kultur sekolah harus dapat menjadi contoh dalam berinteraksi di sekolah. Kepala sekolah adalah figur yang memiliki komitmen terhadap tugas sekolah, jujur dalam kata dan perbuatan dan selalu bermusyawarah dalam membuat kebijakan sekolah, rumah dan menghargai pendapat orang lain. Selain itu, kepala sekolah merupakan model bagi warga sekolah. Keadaan pemikiran di atas, peran guru dalam menciptakan kultur sekolah memberi pengaruh yang besar terhadap proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah. Guru merupakan sosok yang harus bisa menjadi pentransfer nilai-nilai dan ilmu pengetahuan kepada siswa, sekaligus menjadi teladan dan sosok yang dapat dijadikan figur untuk diteladani oleh siswa. Ini dilakukan guru untuk menciptakan kultur sekolah yang mencerminkan nilai-nilai kultur sekolah termasuk diantaranya yaitu nilai keyakinan akan nilai-nilai serta kebiasaan[1]kebiasaan, dilakukan untuk dapat menjadi pegangan bagi siswa dalam menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi. Oleh karena itu, antara guru dan siswa harus bersinergi dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

Sekian penjelasan dan pemaparan dari saya. Mohon maaf apabila ada salah kata atau kalimat yang sedikit untuk dipahami.

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh