KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

 

A'udzubilillahiminasyaithaanirrajim

Bismillahirahmanirahim

 

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh teman-teman yang di rahmati Allah. Apa kabarnya hari ini? Semoga selalu dalam lindungan Allah ya..

 

KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK

 

Dalam proses belajar mengajar antara guru dan peserta didik diperlukan sekali yang namanya pendekatan baik secara fisik maupun mental terlebih lagi guru sebagai seseorang yang mempunyai ilmu yang akan membagi ilmunya tersebut kepada peserta didik harus paham betul bagaimana perilaku serta karakteristik dari peserta didik yang akan dididik oleh guru tersebut. Banyak cara yang dapat dilakukan agar seorang guru sebagai tenaga pengajar yang berintegritas, bersinergi serta layaknya panutan dalam melakukan pengajaran terhadap peserta didik, langkah demi langkah, step by step dapat dipelajari agar seorang guru bisa memahami perilaku dan karakteristik peserta didiknya agar bisa menjadikan peserta didiknya mampu memahami ilmu – ilmu yang akan diberikan oleh gurunya tersebut.Setiap siswa dapat dipastikan memiliki perilaku dan karakteristik yang sangat heterogen.

Sebagian siswa sudah banyak tahu, sebagian lagi belum tahu sama sekali tentang materi yang diajarkan di kelas. Bila pengajar mengikuti kelompok siswa yang pertama, kelompok yang kedua merasa ketinggalan kereta, yaitu tidak dapat menangkap pelajaran yang diberikan. Sebaliknya, bila pengajar mengikuti kelompok yang kedua, yaitu mulai dari bawah, kelompok pertama akan merasa tidak belajar apa-apa dan bosan. Bagi setiap pengajar, mengetahui perilaku karakteristik awal siswa diperlukan dalam menyusun tujuan instruksional. Teknologi instruksional merupakan aplikasi teknologi perilaku untuk menghasilkan perilaku khusus secara sistematik dalam rangka mencapai tujuan instruksional.

Keadaan awal siswa yang heterogen dengan latar belakang serta kemampuan yang berbeda-beda akan jadi penghambat bagi proses pencapaian tujuan instruksional bila sejak awal pengajar tidak mengidentifikasi perilaku dan karakteristik siswa yang akan diajar sering sekali guru menentukan titik materi pembelajarannya berdasarkan halaman pertama yang terdapat dalam buku teks pelajaran. Padahal tidak selamanya pengetahuan siswa itu nol. Buku pelajaran tak dapat dijadikan bahan acuan menebak pengetahuan siswa,begitu juga dengan pandangan kasar mata seorang guru.

Oleh karena itu,langkah yang perlu diambil adalah mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal siswa. Peserta didik merupakan suatu organisme yang sedang tumbuh dan berkembang. Setiap dari peserta didik memiliki potensi masing-masing seperti bakat, minat, kebutuhan dan lain-lain. Oleh karena itu para peserta didik butuh dan perlu dikembangkan memalui pendidikan dan pengajaran, sehingga dapat tumbuh dan berkembang. Dalam era modern ini di bidang pendidikan, perbedaan karakteristik peserta didik perlu dipertimbangkan dan diperhatikan dalam kegiatan belajar mengajar.

Maka dari itu, setiap pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah harus sesuai dengan karakteristik, gaya belajar, dan kecerdasan masing masing peserta didik. Melihat penjelasan diatas, karakteristik, gaya belajar, kecerdasan peserta didik merupakan hal yang perlu diketahui oleh pelaksana pendidikan terutama pendidik yang secara langsung mendidik peserta didik tersebut. Bagi sesama peserta didik juga perlu diketahui agar dapat bertoleransi dengan sesama peserta didik yang memiliki perbedaan karakteristik.

Guru dapat memberikan contoh sikap penerimaan dan toleransi sehingga peserta didik merasa nyaman di sekolah sekaligus untuk menanamkan nilai-nilai dan bahkan menikmati perbedaan diantara mereka tanpa adanya rasa curiga. Dengan demikian karakteristik, gaya belajar, dan kecerdasan peserta didik perlu diketahui dan dipahami oleh para pelaksana pendidik agar dapat merancang rencana pelaksaanan pendidik dengan optimal. Dengan demikian juga jika masing masing karakterisitik peserta didik dipahami maka masing masing peserta didik akan merasa diperhatikan dan akan melaksanakan pembelajaran dengan menyenangkan tanpa tekanan.

Muncul berbagai pertanyaan di seputar “apa hakekat anak didik”. Beberapa pertanyaan penting yang patut dimunculkan adalah: Apakah hakekat anak sebagai anak didik? Mengapa anak didik perlu dipahami? Bagaimana perkembangan jiwa anak sebagai anak didik sehingga dapat dididik dengan baik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu penting mendapat jawaban. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa Pendidikan dipahami sebagai usaha sadar dan terencana dalam rangka mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Proses pembelajaran berorientasi pada peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki seperti memiliki ;

[1] kekuatan spiritual keagamaan;

[2] pendendalian diri;

[3] kepribadian;

[4] kecerdasan;

[5] akhlak mulia; dan

 [6] keterampilan (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003).

Elemen penting dalam Undang-Undang Sistem Pendidkan Nasional ini menjadi barometer keberhasilan pembelajaran dan dunia pendidikan nasional. Artinya, sistem pendidikan nasional bertanggung jawab dalam menentukan masa depan anak-anak. Masa depan mereka akan menentukan masa depan bangsa. Untuk itu, memahami anak didik perlu dilakukan secara komprehensif. Dalam pendekatan pembelajara modern, anak bukanlah obyek pembelajaran. Anak menjadi faktor penting pembelajaran dan sekaligus menjadi subyek pembelajaran. Anak mengikuti pembelajaran dan sekaligus berpartisipasi langsung dalam proses pembelajaran. Kerangka ideal tersebut tercapai apabila pembelajaran dilakukan oleh tenaga pendidik profesional.

Profesi atau jabatan guru --guru yang baik-- sebagai pendidik di sekolah sebenarnya tidak dapat dipandang ringan, karena tugas pendidik menyangkut berbagai aspek kehidupan serta menuntut tanggung jawab moral yang berat. Raharjo menyatakan bahwa guru sebagai profesi memiliki karakteristik profesional minimum dan berdasarkan sintesis temuan-temuan penelitian. Beberapa karakteristik profesional minimum guru adalah; pertama, mempunyai komitmen pada siswa dan proses pembelajarannya; kedua, menguasai secara mendalam bahan pembelajaran atau mata pelajaran serta cara menyampaikan pembelajarannya; ketiga, bertanggung jawab memantau hasil belajar anak melalui berbagai cara evaluasi; keempat, mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya; dan kelima, menjadi partisipan aktif masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.

Sebagaimana telah diungkapkan sebelumnya bahwa peserta didik memiliki karakteristik terdiri. Ia berbeda antara satu dan lainnya. Peserta didik kembar identikpun memiliki perbedaan, meskipun ia memiliki banyak kesamaan. Untuk mengetahui karakteristik peserta didik ini, pendidik harus memahami dan menguasai teori-teori psikologi seperti psikologi belajar, psikologi pendidikan, psikologi perkembangan, psikologi kepribadian, dan berbagai pendekatan lain yang dapat memaksimalkan perhatian terhadap peserta didik. Salah satu tugas yang perlu dilakukan guru sebelum melaksanakan pembelajaran adalah mengetahui karakteristik anak didiknya. Ini penting dilakukan untuk memudahkan guru melaksanakan pembelajaran. Perkembangan selanjutnya, guru dapat merencanakan sekenario pembelajaran yang tepat sesuai dengan kebutuhan anak. Bila kondisi tersebut terjadi, pelaksanaan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien. Efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan baik, sedangkan efiesien dalam mencapai tujuan pembelajaran dalam waktu yang relatif singkat.

Bila kita amati, pembahasan pembelajaran selama ini paling tidak terkonsentrasi pada dua kerangka pandangan pembelajaran, yaitu konstruktivisme dan behaviorisme. Kedua pandangan tersebut berbeda pada sudut pangan, sehingga produk pandanganpun mengalami deferensiasi. Pembelajaran selama ini banyak berorientasi pada paradigma behaviorisme. Behaviorisme lebih memfokuskan pada terjadinya perubahan perilaku yang secara kasat dapat diamati. Pandangan behaviorisme menganggap bahwa pengetahuan peserta tidik “seolah-olah” sebagai “copy-paste” dari guru. Secara akumulatif, pengetahuan yang dimiliki guru ditransfer menjadi sesuatu yang sama dengan pengetahuan yang dimiliki anak.

Dengan demikian, indikator utama keberhasilan poses pembelajaran anak pada perspektif ini adalah behavioral changing. Perubahan-perubahan yang terjadi pada anak dapat diobservasi oleh guru secara berkesinambungan. Namun beberapa kelemahan mendasar pada pandangan ini di antaranya, guru agak kesulitan dalam memahami emosi, penalaran, pemecahan masalah, dan kemampuan berfikir kritis. Perubahan yang mudah diamati merupakan perubahan yang ditampakkan dalam perbuatan (fisik-psikomotorik anak). Sedangkan perubahan yang bersifat psikologis lebih sulit diamati. Di samping itu, pandangan behaviorisme lebih mementingkan keseragaman (unifikasi) di kelas. Padahal unifikasi behavioristik anak sulit terjadi, karena setiap anak memiliki perbedaan baik perbedaan natural maupun nurture.

dalam pespektif biologis, anak memiliki karakteristik dan keunikan antara yang satu dan yang lainnya. Dalam perspektif bioologis dipahami bahwa bahwa setiap anak (orang) memiliki otak. Otak merupakan bagian organ yang penting dalam tubuh manusia. Otak memuat semua informasi yang telah diolah. Otak merupakan pusat sumber penerima dan pengolah informasi yang masuk. Otak terbagi dalam dua hal yaitu yang dinamakan neuron dan sinapsis. Neuron adalah sebuah sel dalam sistem saraf manusia. Neuron berkomunikasi antara yang satu sama yang lainnya dengan cara yang unik. Neuron (sel saraf) adalah unit kerja dasar dari otak, sel khusus yang dirancang untuk mengirimkan informasi ke sel saraf, otot, atau sel kelenjar. Pada umumnya neuron memiliki badan sel, akson, dan dendrit. Badan sel memiliki inti dan sitoplasma. Akson berkembang dari sel tubuh dan berkembang ke berbagai cabang yang lebih kecil dan berakhir di terminal saraf. Dendrit berkembang dari sel tubuh neuron dan menerima pesan dari neuron lain. Sedangkan sinapsis merupakan titik kontak dari satu neuron berkomunikasi dengan yang lain. Dendrit ditutupi dengan sinapsis yang dibentuk oleh ujung-ujung akson dari neuron lain. Untuk itu sinapsis berbentuk struktur yang memungkinkan neuron (atau sel saraf) untuk melewati sinyal listrik atau kimia ke sel lain (atau sebaliknya neural).

Otak manusia dapat dibedakan sesuai dengan struktur belahannya, yaitu otak kiri dan otak kanan. Seseorang memiliki kecenderungan besar untuk lebih menggunakan salah satu belahan otaknya. Otak kiri memiliki ciri-ciri analitis, sistematis, numerik, dan komunikasi yang bagus, sedangkan otak kanan memiliki ciri-ciri seni, kretif, musik, dan spasial yang bagus. Dalam proses pembelajaran, tugas guru vital guru adalah berusaha mengoptimalkan fungsi kedua belahan otak tersebut. Pola pembelajaran yang dapat memaksimal fungsi kedua belahan otak tersebut seperti melaksanakan proses pembelajaran yang menarik dan inovatif. Bila fungsi kedua belahan otak tersebut dapat difungsikan secara maksimal, maka berimbas pada potensi yang dimiliki anak. Semakin bervariatif dan menarik proses pembelajaran yang berlangsung di kelas/luar kelas, maka potensi yang dimiliki anak cenderung berkembang lebih optimal.

Bila diamati, implikasi perspektif biologi dalam pembelajaran dapat berdampak dan berkembang. Implikasi biologi akan menimbulkan sisi positif seperti;

[1] setiap segmen instruksional menggunakan beberapa modalitas dan beberapa jalur sensorik. Semua pembelajaran dapat memperkaya masukan multiindrawi;

[2] memperkaya dengan cara membuat dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif. Lingkungan belajar yang menarik akan menghidupkan inovasi pembelajaran;

[3] memperkuat fungsi belahan otak dan mengakui bahwa perkembangan otak bervariatif dan tidak sama pada setiap siswa.

 

Sekian penjelasan dan pemaparan dari saya. Mohon maaf apabila ada salah kata atau kalimat yang sedikit untuk dipahami.

 

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh